Makna dan Pentingnya Penyangkalan Awal Kalimat atau Syahadat dalam Islam

Paragraf berikut menjelaskan pentingnya dan pentingnya penggunaan kata bahasa Arab LA (LA dalam bahasa Arab berarti Negasi) di awal Kalima dalam Islam. Syahadat menjadi dasar penerimaan seseorang terhadap Islam, dan itu wajib dan wajib bagi seorang Muslim. Bagian dari Kalimat adalah ‘LA ILAHA ILLALAH’ (Tiada Tuhan selain ALLAH). Pendapatnya adalah untuk memahami poin terpenting penggunaan “Negasi” di awal Kalima. Makna dan konteksnya dalam sebuah Kalimat atau Syahadat memainkan peran penting dalam memahami realitas Allah. Itu juga akan memperkuat konsep dan realitas penciptaan. Oleh karena itu, negasi membentuk titik utama dalam Kalima atau Syahadat.

Paket Biaya Umroh 2023 kami dirancang khusus untuk membuat perjalanan Umroh Anda sesederhana
mungkin.

Untuk memahami dan mengevaluasi makna dan penggunaan negasi dalam Kalima, kita harus menganalisisnya secara filosofis dan logis. Kita dapat mencapai tujuan kita, jika kita dengan tulus menghargai kebutuhan dan kepentingannya. Kita harus berusaha memahami makna struktural dari kata Negasi (LA) di awal kalimat. Variasi apa pun dari makna dan konteks yang dimaksudkan akan mengarah pada makna literal. Oleh karena itu menjadi ilusif dan tidak meyakinkan. Makna dan konsep kalimat akan memiliki efek positif pada individu ketika konteksnya mengungkapkan signifikansi dan kepentingannya. Pemahaman konsep struktural dan konteks yang diwahyukannya dapat dicapai jika kejernihan pikiran dan pola pikir yang benar mau menerima. Pencacahan berikut akan membuktikan negasi di Kalima. Sheikh Mukhtar Ali mengatakan, “Ada tiga tahap untuk memahami penggunaan negasi dalam sebuah Kalima; Takhliyah, Tahliyah dan Tajliyah”. Oleh karena itu, perlu berpikir serius daripada santai. Ketulusan akan memaksa seseorang untuk berdamai dan mengikuti jalan yang lurus. Pentingnya dan alasan penyertaannya dalam Kalima pada awalnya sangat mendalam, bijaksana dan bijaksana. Oleh karena itu setiap individu harus berusaha memahaminya dengan tegas. Itu akan membimbingnya menuju jalan yang benar dan membuka banyak wawasan ilmu. Ini akan membuatnya mengerti arti sebenarnya dari “LA ILAHA ILLALAH”

Kami akan mengeksplorasi tiga tahap yang ditentukan di atas untuk memahami maknanya dan mengevaluasi dalam konteks penggunaannya.

(A) Takhliyah, artinya melepaskan, melepaskan, membebaskan, membebaskan, mengosongkan dan menyucikan seperti yang diungkapkan dalam memohon ampunan.

(B) Tahliyah, artinya mengisi dan menghiasi, seperti yang diungkapkan dalam bacaan dengan lidah dan menjadikan hati sebagai wadah periferal untuk memahami makna dan konsep Allah yang sebenarnya, sejak awal.

(C) Tajliyah, artinya menyaksikan nuansa zikir, zikir. Itu berarti memperoleh pengetahuan; Allah adalah Pencipta, Penyayang dan Pemurah. Al-Qur’an memperkuat Tajliyah dalam Ayat berikut, “Maka arahkanlah (hai Muhammad SAW) wajahmu ke arah agama Monoteisme Islam murni Hanifa (tidak menyembah selain Allah saja) Fitrah Allah (yaitu Monoteisme Islam Allah), yang dengannya Dia telah menciptakan manusia. Tidak ada perubahan biarlah pada Khalqillah (yakni Agama Monoteisme Islam Allah), yaitu agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Quran: [030:030] Tafsir AtTabaree)

Selanjutnya, sebelum memahami Negasi dalam Kalimat, wajib untuk memahami makna manusia. Syekh Fadullah Haeri berkata, “Agar Sains menjadi berarti manusia harus menjadi ukuran dan ukuran itu adalah makna Manusia. Tujuan penciptaan adalah untuk mengenal Allah di Zona waktu ini.” Makna Manusia, yang mengeksplorasi tujuan penciptaan, sehingga mencerminkan transparansi dan kejelasan. Oleh karena itu, itu menjadi deduksi yang tidak dapat diubah dalam hal Pencipta dan ciptaan-Nya.

Sekarang kembali ke tiga tahap pemahaman Negasi di Kalima yang ditentukan di atas, itu akan menjadi jelas dan dapat dipahami tunduk pada deduksi objektif. Pada tahap pertama, Negasi menuntut manusia untuk melepaskan diri dari semua keterikatan materialistis dan kembali ke Fitrah Allah. Tahap kedua mengharuskan dia untuk membaca Zikr, zikir. Pada awalnya, hatimu menjadi penerima periferal dari makna Allah dan memahami penciptaannya. Tahapan terakhir adalah menyaksikan nuansa zikir dan keyakinan terhadap Pencipta dan Ciptaan-Nya. Di sini penting untuk sering mengingat dengan membaca zikir dengan ilmu. (Dalam bahasa Arab disebut Ma’Arifat artinya ilmu)


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai